Kisah inspiratif dari saudaraku H.Ihsanul Takwim.(Mengenang lima tahun meninggalnya ayahku: Alm.Yuzirman: 18 Agustus 2009)
Ayahku memulai usaha berjualan sendal jepit dan serbet lebih kurang 35 tahun lalu saat merantau ke Jakarta. Begitu menurut penuturan ibunda saya tentang awal usaha mereka saat merantau ke Jakarta. Pendidikan terakhir ayah saya STM (tidak lulus). Kabarnya ayah saya juga pernah mengadu nasib ke Aceh untuk bekerja di perusahaan minyak. Namun kenyataan mengharuskan ayah saya hengkang dari perusahaan tersebut.
Ternyata persoalan ’mental blocking’ atau minder saat jualan bukan hanya hinggap pada pengusaha saat ini, masalah ini juga dialami oleh ayah saya. Ceritanya pada saat jualan serbet di suatu pasar, ayah saya berjualan di suatu tempat tapi beliau berdiri dengan mengambil jarak agak jauh. Beliau masih asing untuk berjualan dan merasa grogi kalo ketauan jualan serbet oleh kawannya atau sanak family kami yang lain. Bahasa sekarang jaim kali yaaa...
Tapi itulah ayah saya, jualan apapun dilakoninya. Bagi kami keluarga yang berasal dari minang sepertinya tidak ada pilihan hidup kecuali berjualan. Untuk menjadi PNS atau kerja lainnya harus memiliki skill dan Ijazah, nah inilah yang lagi-lagi tidak dimiliki oleh ayah saya. Jadi pilihan kebanyakan orang minang yang mengadu nasib hanyalah berjualan.
Alhamdulillah seiringnya waktu usaha kecil2an ayah saya mulai menampakkan hasil. Cerita ibu saya prestasi yang paling mengagumkan saat itu adalah terkumpulnya uang untuk membeli selembar kasur, maklum saat masih ngontrak hanya bisa merebahkan diri pada sehelai tikar saja. Ibu saya suka berkaca-kaca matanya bila bercerita tentang ini.
Begitulah cerita tentang hari-hari ayah saya yang berprofesi sebagai pedagang. Tidak jarang juga diusir kamtib bila ’melanggar’ lokasi berjualan. Aneh memang ya, kok ada alasan yang dibuat-buat demi ketertiban pedagang kecil harus rela diusir kesana kemari padahal dengan menjadi pedagang ayah saya sudah mengurangi jumlah pengangguran saat itu.
Bisa dibilang ayah saya sama sekali tidak memiliki kelengkapan yang menjadikannya pedagang sukses. Tidak memiliki proposal bisnis, gaK ngerti analisis keuangan apalagi kenal ama makhluk yang namanya BEP. Walhasil profesi sebagai pedagang dijalani sebagai alur hidup yang dimaknai dengan sebuah upaya untuk mempertahankan hidup di kota besar.
Ada satu hal yang saya pelajari dari ayah saya (plus ibunda tentunya), yaitu keberanian untuk mengambil keputusan. Pada saat tempat jualannya dipasar dekat kami tinggal harus ’dirapihkan’ oleh pemda, orangtua saya langsung mengambil sikap untuk pindah ke tempat lain. Berat awalnya karena harus ada banyak penyesuaian serta strategi jualan di tempat yang baru. Tapi ternyata Allah menitipkan rizki yang lebih besar, dari tempat berjualan yang baru ayah saya akhirnya bisa membeli sebuah rumah yang lumayan besar dari tangan seorang yang beretnis cina. Padahal di lingkungan kami sudah sangat mafhum bahwa mereka yang bermata sipit memiliki status sosial yang lebih tinggi daripada pribumi. dan Alhamdulillah akhirnya ayah saya setidaknya sedikit mampu mengimbangi dominasi itu.
Apakah setelah memiliki rumah ayah saya berubah? Ternyata sama sekali tidak, ayah saya tetap sederhana dan gigih memungut setiap rizki yang bertebaran di muka bumi dengan berjualan. Motor yang dimiliki ayah saya dari berjualan tahun 80an hingga beliau akhirnya menutup mata sama sekali tidak berubah, vespa tahun 80an adalah teman setia beliau mengais rezeki. Bila saat musim liburan saya selalu ingin menemani beliau berjualan. Saya berdiri di depan vespa bututnya sementara beliau mengemudi dan ibu saya di belakang. Tidak jarang pula saya dan ayah kehujanan pada saat melintasi kawasan kota dan mangga dua. akhirnya sampai rumahpun kami basah-basahan. Ini pengalaman yang tidak pernah kami lupakan.
Tidak ada yang istimewa dari sisi penampilan dan gaya hidup ayah saya. Tapi bagi saya kesederhanaan dan kebaikan beliau itulah kelebihannya. Dalam bergaul beliau paling sulit untuk menolak membeli barang-barang yang seharusnya tidak perlu ia beli. Umpamanya jam tangan, bukankah kita hanya cukup memiliki satu saja jam tangan? Tapi ayah saya bisa memiliki lebih dari 10...! Tapi semuanya second alias sudah setengah pake alias jual butuh, dalam hal ini ayah saya pantang untuk menolak membeli walaupun harganya tidak terlalu murah juga. Prinsip beliau dengan membeli barang orang lain berarti telah membantu orang lain, walaupun tidak dibutuhkan sama sekali.
Dan akhirnya cerita tentang kesedehanaan dan kebaikan beliau berakhir seiring jalannya waktu pada saat kami harus berpisah untuk selamanya. Allah mentakdirkan untuk menjemputnya pada saat 19 Agustus 2004, tepat dua hari setelah perayaan kemerdekaan. Ayahku menyisakan berbagai kenangan hidup yang tidak mungkin kulupa. Ia telah mengukir sejarah hidupnya dengan berbagai prestasi gemilang di keluarga kami. Aku bangga padanya. Buliran keringatnya yang menetes pastilah tidak sia-sia. Air matanya yang mungkin pernah tumpah ruah pada saat harus berusaha dan bertarung hidup membesarkan kami pastilah dibalas pahala yang berlimpah. Andaikan mulutku masih bisa diberikan kesempatan untuk membisikkan kata terbaik maka akan kuucapkan setulus hati bahwa : aku sangat mencintainya....
Ayahandaku sayang... walaupun jari jemari kita tidak lagi bertemu dengan jabatan hangatmu, tapi aku yakin bahwa kedua tanganmu telah dimuliakan oleh Allah yang telah mentakdirkan aku sebagai anakmu. Kedua tanganmu itulah yang telah bersusah payah membesarkan aku, mendidik aku, dan mencari rizki agar kami bisa hidup layak. Kedua tanganmu itulah yang pernah menggamit tangan kecilku pada saat berangkat kesekolah. Kedua tanganmu itulah yang telah banyak mengeluarkan peluh keringat menarik sepeda motor tuamu untuk mencari rizki yang halal untuk kami. Aku tahu ayah di balik senyummu menyimpan duka karena kau harus rela diusir dalam mencari rizki. Aku tahu bahwa Allah sangat sayang padamu dengan menimpakan ujian agar dimataku engkau terlihat lebih tegar.
Ayah...aku sedih karena tidak lagi bisa mencium tanganmu yang sangat mulia. Aku sedih belum bisa membalas semuanya, aku sedih belum bisa membuatmu lebh banyak tersenyum, aku sedih kedua anakku belum bisa menatapmu dan belajar darimu tentang kehidupan. Tapi ayah, kedua anakku pastilah bangga memiliki kakek yang begitu perhatian, cinta pada keluarga. Pastilah semuanya akan kuceritakan ayah, semua kebaikanmu akan kuceritakan pada mereka...
Ayah ditempat terbaik di muka bumi ini telah kuucapkan untaian-untaian doa terbaik untukmu. Aku yakin ini merupakan takdir Allah dan doamu juga.
Ayah... aku telah diberi kesempatan untuk menatap Ka’bah yang agung bersama orang yang paling kau sayangi...ibundaku. Ayah pada saat langit arafah dibuka selebar-lebarnya dan semua doa akan diijabah oleh Sang Pemberi Maaf, doa untukmu sudah kuungkapkan. Aku menitipkan doa agar kau bahagia bersama amalmu yang telah kau toreh di dunia, Aku meminta agar segala pengorbananmu diberikan balasan yang lebih baik.Aku meminta agar kau dikumpulkan bersama orang-orang mulia di muka bumi ini, bersama para nabi dan syuhada. Karena aku tahu engkau juga mulia di mataku.
Ayah kalau boleh aku meminta pada Sang Pencipta kita pastilah aku ingin bersamamu. Tapi Allah hendak melihat amal kebaikanku lebih banyak lagi agar kita diberi kesempatan lagi berjumpa di Surga...
Ayah.. Aku akan selalu mengenangmu dan menitipkan doa terbaik untukmu...
Wassalam
Mohon izin posting pak Haji, buat rekan-rekan Laskar Taruna Mandiri
No comments:
Post a Comment